Kantor Berita Internasional Ahlulbait — ABNA — Hari Jurnalis menjadi momentum untuk meninjau kembali tugas insan media perlawanan dalam mengangkat cita-cita Palestina dan Al-Quds yang mulia. Cita-cita yang tahun ini disirami darah Pemimpin Syahid umat Islam, Ayatullah Syahid Sayid Ali Khamenei; pemimpin syahid yang hingga hari-hari terakhir kehidupannya selalu menekankan pentingnya menjaga cita-cita ilahi dan mulia ini tetap hidup.
Dalam konteks ini, Wajihah-Sadat Hosseini, aktivis media, menulis dalam sebuah catatan: Hampir satu tahun telah berlalu sejak gencatan senjata permanen antara Gaza dan rezim Zionis. Namun selama periode itu, akibat serangan dan agresi terus-menerus pasukan pendudukan di Gaza sejak awal gencatan senjata hingga kini, 1.254 warga Palestina gugur sebagai syahid dan 4.121 orang lainnya terluka. Militer rezim Zionis juga menangkap 159 warga Palestina selama masa pelaksanaan kesepakatan tersebut.
Rakyat Gaza selama satu tahun ini tidak pernah merasakan arti gencatan senjata dan perdamaian. Di tengah kabut gencatan senjata yang hanya ada di atas kertas dan tidak bernilai, Gaza setiap hari menjadi sasaran serangan brutal Israel. Warga Gaza bahkan tidak aman di dalam tenda-tenda mereka. Jika mereka selamat dari bombardemen rezim Zionis, kelaparan, dan kekurangan kebutuhan dasar, kini hewan pengerat dan ular berbisa ikut membuat hidup rakyat yang sabar dan tangguh ini semakin sulit. Merebaknya penyakit kulit dan hancurnya infrastruktur kesehatan membuat situasi kian sulit dikendalikan.
Ketika tragedi kemanusiaan di Jalur Gaza setiap hari semakin meluas dan mesin perang Israel tidak berhenti sedetik pun dari serangannya, rakyat di wilayah ini menjalani hari-hari mereka di antara kehancuran, kelaparan, pengungsian, dan kematian perlahan. Gaza hari ini bukan hanya berada di bawah hujan bom, tetapi juga berada di bawah tekanan blokade dan perampasan hak hidup. Gaza sedang mengalami salah satu babak paling pahit dalam sejarahnya.
Di sisi lain tanah Palestina, rakyat Tepi Barat juga menghadapi gelombang kekerasan dan tekanan yang semakin meningkat. Serangan para pemukim Zionis dan operasi militer pendudukan untuk merampas sisa tanah Palestina kian intensif, membuat kehidupan sehari-hari ribuan keluarga menjadi lebih berat dari sebelumnya. Dalam beberapa bulan terakhir, lahan pertanian dan rumah-rumah warga tak berdaya berulang kali menjadi sasaran serangan. Pada saat yang sama, rencana-rencana baru untuk memperluas permukiman Zionis di tanah Palestina juga disahkan.
Pohon zaitun, yang bagi rakyat Palestina bukan sekadar tanaman pertanian, melainkan simbol akar, identitas, dan keteguhan, juga tidak luput dari agresi ini. Pembakaran kebun zaitun, perusakan lahan, dan serangan terhadap para petani telah menghantam keras kehidupan ekonomi rakyat. Produksi minyak zaitun pun jatuh ke salah satu level terendah dalam beberapa tahun terakhir.
Palestina historis dan rakyatnya sedang melewati hari-hari yang berat dan menentukan. Tanah yang selama puluhan tahun bergulat dengan pendudukan, pengusiran paksa, blokade, dan kekerasan ini, hari ini kembali menyaksikan upaya-upaya untuk mengubah realitas di lapangan dan mempersempit ruang hidup rakyat Palestina.
Dalam situasi seperti ini, sayangnya Gaza tidak lagi menjadi tren media seperti tiga tahun lalu. Banyak media dunia disibukkan oleh berbagai berita lain, mulai dari perang Rusia-Ukraina, dinamika Timur Tengah, kesepakatan-kesepakatan kertas yang berulang antara Israel, Amerika, dan sebagian negara kawasan, hingga berbagai peristiwa lain yang tampak lebih gemerlap.
Dengan diperkenalkannya pemimpin baru Hamas, harapan akan menguatnya kembali perlawanan di Gaza memang meningkat. Namun agresi besar-besaran Zionis terhadap Gaza dan Tepi Barat, serta penodaan terhadap Masjid Al-Aqsa, membuat para pendukung perlawanan di seluruh dunia merasa khawatir.
Banyak pertanyaan hari ini muncul di benak para pendukung cita-cita Palestina. Apakah Hamas akan kembali ke masa kekuatan dan ketangguhannya? Apakah pelucutan senjata, kepemilikan senjata secara bersyarat, atau pembatasan senjata menjadi agenda para pemimpin baru Hamas?
Tiga tahun lalu, operasi Taufan al-Aqsa dimulai dengan tujuan menghidupkan kembali nama dan cita-cita Palestina di dunia. Selama masa itu, dunia Islam membayar harga yang sangat mahal untuk tujuan besar ini; mulai dari darah hampir 80 ribu warga Palestina, hingga darah berharga para pemimpin perlawanan, dari Syahid Sayid Hasan Nasrallah, Yahya Sinwar, dan Haniyeh, sampai pemimpin besar umat Islam, Ayatullah Syahid Sayid Ali Khamenei.
Apakah setelah membayar biaya sebesar itu, isu Palestina masih membutuhkan Taufan al-Aqsa yang lain?
Memudarnya isu Palestina di media dan mencukupkan diri dengan menerbitkan berita-berita padat tentang Gaza dan Tepi Barat tidak akan membantu menyelamatkan perjuangan Palestina. Menerbitkan pernyataan-pernyataan sebatas kecaman terhadap serangan Israel, pelanggaran gencatan senjata, atau konsultasi telepon para pejabat politik juga tidak banyak membantu menyelamatkan rakyat Gaza. Pertanyaan pentingnya adalah: dalam kondisi seperti ini, apa tugas forum-forum politik dan media dunia Islam?
Salah satu capaian terpenting operasi Taufan al-Aqsa adalah lahirnya fenomena yang disebut kesatuan front. Sejak hari-hari pertama operasi tersebut, front Hizbullah Lebanon, lalu front perlawanan Irak, Yaman, dan Iran memasuki medan ini dan memberikan pukulan telak kepada rezim pendudukan.
Bersamaan dengan kehadiran kuat kekuatan-kekuatan perlawanan di seluruh front, media-media perlawanan juga bergerak seirama, dari dalam Gaza hingga titik-titik terjauh dunia di Eropa dan Amerika, untuk menyadarkan publik dunia tentang kejahatan yang terjadi di Gaza.
Demonstrasi harian di negara-negara Eropa dan berbagai aksi duduk sebagai protes terhadap dukungan pemerintah-pemerintah Eropa kepada Israel merupakan hasil dari kerja media front perlawanan dalam membangkitkan kesadaran global.
Namun menjelang peringatan tiga tahun operasi Taufan al-Aqsa, yang menurut Pemimpin Syahid Revolusi Islam telah membuat rezim Zionis mengalami kekalahan yang tidak dapat dipulihkan, front politik, militer, dan media perlu kembali kepada semangat hari-hari pertama operasi besar tersebut. Dalam hal ini, barangkali front media harus menjadi pelopor gerakan ini agar isu Palestina dan Gaza kembali berada di puncak berita terpenting dunia.
Pada masa puncak operasi Taufan al-Aqsa, berita dan laporan tentang Gaza, bahkan meja-meja diskusi dan analisis seputar Gaza dan Palestina, terlihat jelas di media. Sebagian media bahkan membuka rubrik khusus dan terpisah untuk berita Gaza. Namun setelah adanya kesepakatan gencatan senjata, berita Gaza hari demi hari semakin redup di berbagai media. Padahal krisis Gaza masih berlangsung, dan para pejabat Zionis sendiri mengakui bahwa bahkan jika Hamas dan kelompok-kelompok perlawanan dilucuti senjatanya, mereka tetap tidak akan meninggalkan Gaza.
Jika meredupnya pemberitaan Gaza di media-media perlawanan terjadi akibat pengarahan tidak langsung dari front Amerika dan Zionis, maka tanpa disadari insan media perlawanan sedang bergerak dalam peta musuh.
Kajian atas isi gencatan senjata Israel-Hamas dan pemantauan pelaksanaan poin-poin kesepakatan tersebut, dengan memperhatikan perkembangan lapangan di Gaza, harus terus-menerus menjadi bagian dari agenda media-media perlawanan.
Wawancara dengan pejabat Hamas dan kelompok-kelompok perlawanan Palestina lainnya untuk memahami perkembangan terbaru Palestina dan Gaza, mengevaluasi kesepakatan gencatan senjata, serta menilai kondisi perlawanan dan persenjataannya, juga harus masuk dalam prioritas kerja para insan media perlawanan.
Hari ini, menjaga cita-cita Palestina tetap hidup adalah tanggung jawab berat di pundak seluruh manusia merdeka di dunia. Setiap orang, dengan perangkat media sosial yang dimilikinya, dapat berperan seperti seorang jurnalis: berbicara tentang duka dan penderitaan rakyat Gaza serta membela mereka di hadapan rezim pendudukan Al-Quds.
Sikap diam politik sebagian media Barat dan Arab tidak boleh membuat media-media perlawanan lainnya ikut diam dan bersikap tidak peduli. Jika kebisuan ini terus berlanjut dan isu Palestina kembali dilupakan, boleh jadi cita-cita besar ini sekali lagi membutuhkan Taufan al-Aqsa yang lain, dan untuk melakukannya, darah-darah berharga lainnya harus kembali tertumpah.
Karena itu, setiap media harus merasa berkewajiban untuk setiap hari mengangkat isu Palestina, dan tidak membiarkan debu pelupaan menutupi wajah cita-cita terpenting dunia Islam.
Komentar Anda